Pormadi
August 9th
Male
Jakarta
   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, February 23, 2007
Memaknai Rasa Lapar Saat Berpuasa

 

Hari ini 21 Februari 2007, saya ikut mulai berpuasa sebagaimana umat Katolik lainnya. Niatku pada hari ini berpuasa dengan tidak makan siang, cukup sarapan nasi uduk dengan sepotong tahu.Lalu aku coba mengisi waktuku dengan merenung sambil bekerja.  Setelah jam menunjukkan pukul 12.00 siang, saat makan siang kantor tiba, aku diuji akankah aku makan siang atau tidak? Perut mulai terasa lapar. Sebagian teman memang memilih makan siang tanpa sarapan pagi. Godaan akan makan siang terus muncul ke permukaan, tapi aku tetap berusaha menahannya hingga pada sore hari.

 

Pada jam pulang kantor, pukul 16.00 WIB, kembali rasa lapar itu meruak ke permukaan. Maklum, saya selalu makan tiga kali sehari dan selalu tepat waktu. Semakin terasa rasa lapar itu semakin kucoba melawannya seraya bertanya apa artinya rasa lapar dilawan? Bukankah kelaparan dapat membuat saya sakit dan tambah kurus? Rasa lapar itu mendorongku untuk memaknai rasa lapar.

 

Baru tidak makan satu kali sudah mengeluh dan menggerutu, lalu bagaimana dengan mereka yang lapar dan  makan hanya sekali sehari dalam tiap minggu, tiap bulan dan tiap tahun? Bagaimana pula dengan mereka yang lapar sepanjang hidupnya?

 

Rasa lapar adalah soal adanya kekurangan yang harus dipenuhi agar rasa lapar menjadi hilang. Dalam konteks berpuasa, rasa lapar lapar itu harus ditahan dan dilawan. Rasa lapar itu menjadi ujian dan tantangan untuk bermati raga, menyangkal diri dan bersolidaritas dengan mereka yang lapar dan digerakkan oleh kekuatan adikodrati demi mencapai kesejatian diri di hadapan Allah.

 

 


Posted at 09:01 am by Pormadi
Make a comment  

Thursday, June 08, 2006
BENCANA DAN SIKAP BIJAKSANA

 BENCANA DAN SIKAP BIJAKSANA

Bencana dan tsunami di NAD dan Nias, kemudian di Yogya dan Jawa Tengah.
Bencana alam dalam bentuk lain seperti banjir bandang, kebakaran hutan
dan lain sebagainya juga siap menggerogoti penduduk bumi. Tampaknya alam
sedang marah.

 Kejadian-kejadian tersebut sungguh mengusik hati dan cara
berpikir manusia mengenai realitas baik yang dapat dilihat maupun tidak
(manusia, alam semesta dan Tuhan).

Manusia menjadi sadar bahwa ada Sang Pengada atau Sang Pengatur Alam semesta. Pengada dan Pengatur Alam
tersebut tetap berkarya sesuai dengan hukum alamnya. Sang Pengada itu
mahadahsyat dan mahamenggetarkan.

 Di saat itu pula manusia tercerahkan bahwa dirinya sebagai ada manusia adalah fana dan hidup sementara. Segala harta, kekayaan dan kehormatan dapat hilang dalam hitungan waktu yang singkat. Peristiwa alam semestinya membuat manusia (pemerintah,
rakyat dan semua orang ) semakin bijaksana dalam bersikap terhadap alam,
sesama dan Tuhannya.

Kepada Tuhan kita makin beriman. Kepada sesama
manusia kita makin saling menghargai. Kepada alam kita semakin paham
akan hukum alam. Apa pendapat anda?


Posted at 04:18 pm by Pormadi
Make a comment  

DOA ITU MEMBUAT KITA BIJAKSANA

DOA ITU MEMBUAT KITA BIJAKSANA

Pengalaman harianku menunjukkan bahwa doa dan berdoa dengan tulus hati membuat kita semakin bijaksana dalam berpikir, berbicara, bertindak dan berhadapan dengan semua orang.

Ketika aku berdoa dalam keheningan, banyak inspirasi bermunculan. Inpirasi itu berbicara bagaimana dan apa yang baik aku lakukan terhadap diri kita, sesama dan Tuhan

Ketika aku berdoa, hati dan pikiranku tenang dan damai. Segala masalah dan kesusahan hidup menjadi dapat aku hadapi dengan tenang pula.

Dengan doa aku makin tercerahkan untuk bersikap bijaksana terhadap realitas.

 


Posted at 09:55 am by Pormadi
Make a comment